Langsung ke konten utama

Pilkada untuk Pemimpin Bersih

Tentu kita mengamini bahwa harapan dihelatnya pilkada serentak kali ini yaitu bisa mencetak pemimpin-pemimpin yang bersih.

Hal ini wajar mengingat selama ini kita sering mendapat kekecewaan dari sekian banyak kepala daerah karena terlibat korupsi. Alih-alih menjalankan program kerja secara amanah, mereka malah mempermainkan jabatan yang diembannya. Contoh terbaru yaitu operasi tangkap tangan KPK terhadap Bupati Klaten Sri Hartini, yang menghebohkan masyarakat di penghujung tahun lalu.

Sri Hartini dituduh terlibat kasus suap terkait promosi jabatan dalam pengisian susunan dan tata kerja organisasi perangkat daerah. Sebelumnya juga terjadi kasus serupa yang menjerat Bupati Subang, Ojang Sohandi. Ojang ditangkap KPK karena didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang. Kasus di atas adalah sedikit contoh dari sederetan panjang kasus korupsi yang menimpa kepala daerah.

Berdasarkan data KPK, hingga 2016 sedikitnya ada 361 kepala daerah yang terlibat kasus korupsi. Rinciannya, yaitu 343 bupati/ wali kota dan 18 gubernur. Kasus-kasus itu ditangani oleh tiga lembaga yang memiliki kewenangan memberantas korupsi (KPK, kepolisian, dan kejaksaan). Korupsi yang melibatkan kepala daerah tersebut mayoritas terkait praktik suap-menyuap.

Bila kita cermati, setidaknya ada dua hal yang menjadi alasan banyak kepala daerah terlibat korupsi.

Pertama, yaitu karena ongkos politik yang sangat tinggi. Kita mahfum, untuk mencalonkan diri menjadi kepala daerah, orang perlu modal finansial yang besar.

Modal itu digunakan untuk berbagai macam kegiatan, di antaranya untuk kampanye, sosialisasi calon, membentuk tim pemenangan, dan lainnya. Suatu hal yang tak terbantah, modal-modal tersebut pun lalu diperhitungkan harus kembali ke kantong mereka bila terpilih kelak. Jika mengandalkan gaji saja tentu tidak cukup, para kepala daerah akhirnya mencari sumber dana lain. Sumber dana itu bisa dari APBD atau suap dari orang-orang yang ingin mengisi pos-pos jabatan di dalam struktur pemerintahan. Hal inilah yang menyebabkan kepala daerah terperangkap dalam kasus korupsi.

Kedua, pelaksanaan otonomi daerah mencatat banyak melahirkan dinasti-dinasti politik.

Otonomi daerah telah memunculkan oligarki kekuasaan yang menguntungkan orang-orang yang dekat dengan kepala daerah saja. Artinya, dalam mengisi jabatan penting, kepala daerah kerap kali melelang jabatan atau memberikannya kepada orang-orang terdekatnya. Tentu saja dengan mensyaratkan sejumlah upeti sebagaimana kasus yang menimpa Bupati Klaten di atas.

Akhirnya mereka pun terlibat kasus saling suap-menyuap. Perilaku koruptif kepala daerah tentu tidak sejalan dengan semangat demokrasi. Padahal kepala daerah yang dipilih langsung oleh rakyat sesuai asas demokrasi harus melaksanakan amanah kepemimpinan dengan sebaik-baiknya. Salah satunya dengan cara membentuk sistem pemerintahan daerah yang bersih. Sistem pemerintahan yang bersih merupakan ciri budaya politik yang prodemokrasi serta sangat didambakan semua masyarakat.

GUSNANTO
Mahasiswa Jurusan Manajemen
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
UIN Sunan Gunung Djati Bandung

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Rabu 22 Februari 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merajut Kerukunan, Merawat Kemajemukan

Indonesia yang sudah merdeka lebih dari 71 tahun belum menemukan momentum soliditasnya. Republik ini masih (dan terus) berproses mencari momentum itu dalam sistem kehidupan negara-bangsa. Ini dikarenakan masih banyak di antara kita yang enggan membuka hati untuk memaknai pentingnya kebersamaan saat hidup di negara majemuk seperti Indonesia. Indonesia adalah entitas yang khas dan unik secara geografis maupun sosiokultural. Puluhan ribu pulau dan bermacam-macam bahasa, budaya, adat, suku, ras, agama, dan pikiran membentuk Indonesia. Kenyataan ini seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menjadikan Indonesia negara yang maju. Namun misi yang diemban negara sebagaimana yang tercantum dalam ideologi Pancasila poin ketiga, yakni Persatuan Indonesia, dirasa belum sepenuhnya terwujud. Kemajemukan Indonesia belum bisa lepas dari konflik yang sering terjadi di berbagai daerah. Konflik itu biasanya mengatasnamakan suku, agama, ras, dan antargolongan alias SARA. Kita melihat masih banyak orang yan...

Pahlawan Adalah Kita

Oleh: GUSNANTO "Siapakah kini pelipur lara/Nan setia dan perwira/Siapakah kini pahlawan hati/Pembela bangsa sejati" (Gugur Bunga di Taman Bakti, Ismail Marzuki). Peringatan Hari Pahlawan 10 November lalu, mengingatkan kembali kepada kita tentang pentingnya meneladan laku kepahlawanan seorang pejuang sejati sebagaimana yang ditunjukkan para patriot kemerdekaan bangsa tempo dulu. Pesan moral ini terasa relevan di tengah kondisi bangsa Indonesia dewasa ini yang seolah sedang mengalami defisit figur negarawan sejati. Diskursus ini muncul tatkala kita menyaksikan betapa banyak elite negeri yang terjebak pragmatisme politik jangka pendek. Elite negeri hanya melihat segala sesuatu dari sudut pandang kepentingan masing-masing pribadi ataupun kelompok. Politik transaksional semakin merajalela berkelindan dengan kekuasaan. Jabatan yang merupakan mandat kekuasaan dari rakyat diperjualbelikan seenaknya. Maka, tak heran bila berita penyidik KPK "menyambangi tiba-ti...

Menyikapi Defisit Kebenaran di Media Sosial

Oleh: GUSNANTO*) Belakangan ini kita disuguhi ramainya pemberitaan tentang informasi palsu ( hoax ). Penyebaran hoax di media sosial sudah sangat akut meracuni masyarakat kita. Bahkan, keberadaannya telah sampai pada kondisi yang sangat memprihatinkan. Media sosial yang semestinya sebagai sarana untuk memudahkan berkomunikasi dan berbagi informasi, kini telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan propaganda. Media sosial telah bertransformasi menjadi “rimba” yang sarat informasi tetapi defisit kebenaran. Kita akan dengan mudah menemukan informasi “liar” yang mengandung unsur kepalsuan, penghasutan, fitnah, ujaran kebencian, atau adu domba di media sosial. Hoax adalah berita palsu yang ditengarai bertujuan untuk mendiskreditkan seseorang atau kelompok tertentu. Karakteristik berita hoax sebenarnya mudah dikenali. Biasanya, judul berita bersifat provokatif, menghebohkan, bombastis, dan memiliki tendensi terhadap individu atau kelompo...