Langsung ke konten utama

Merajut Kerukunan, Merawat Kemajemukan

Indonesia yang sudah merdeka lebih dari 71 tahun belum menemukan momentum soliditasnya. Republik ini masih (dan terus) berproses mencari momentum itu dalam sistem kehidupan negara-bangsa.

Ini dikarenakan masih banyak di antara kita yang enggan membuka hati untuk memaknai pentingnya kebersamaan saat hidup di negara majemuk seperti Indonesia. Indonesia adalah entitas yang khas dan unik secara geografis maupun sosiokultural. Puluhan ribu pulau dan bermacam-macam bahasa, budaya, adat, suku, ras, agama, dan pikiran membentuk Indonesia. Kenyataan ini seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menjadikan Indonesia negara yang maju.

Namun misi yang diemban negara sebagaimana yang tercantum dalam ideologi Pancasila poin ketiga, yakni Persatuan Indonesia, dirasa belum sepenuhnya terwujud. Kemajemukan Indonesia belum bisa lepas dari konflik yang sering terjadi di berbagai daerah. Konflik itu biasanya mengatasnamakan suku, agama, ras, dan antargolongan alias SARA. Kita melihat masih banyak orang yang mengekspresikan sikap primordialisme dan ego keidentitasan belaka dalam bergaul di lingkungan masyarakat. Sikap seperti inilah yang bisa memicu terjadinya konflik.

Sikap merasa paling baik “tentang” diri sendiri dan menganggap jelek “tentang” orang lain sudah sepatutnya kita jauhi, apalagi menjelang pemilihan kepala daerah seperti sekarang. Momen kontestasi elektoral seperti pilkada biasanya rawan terjadi konflik. Selain geseken-gesekan politik yang panas, konflik bisa timbul karena isu-isu negatif yang disebarluaskan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Maka dari itu, semua masyarakat harus waspada dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu negatif tersebut.

Apapun latar belakang perbedaannya, sebaiknya warga tetap menjaga keharmonisan bangsa. Keharmonisan itu tidak akan terwujud jika tidak dibangun sikap saling menghormati atas dasar persatuan. Tercapainya kemerdekaan dan terpeliharanya eksistensi Indonesia sampai sekarang merupakan buah dari semangat persatuan yang ditunjukkan para pejuang bangsa.

Mereka sadar bahwa Indonesia adalah bangsa yang plural. Maka kemerdekaan hanya bisa diraih jika mereka bersatu. Kemajemukan, meminjam bahasa Azyumardi Azra, sebenarnya blessing in disguise bagi Indonesia. Menjadi majemuk merupakan anugerah Tuhan yang bangsa dan negara ini mestinya merasa beruntung memilikinya. Kemajemukan adalah integritas bangsa sekaligus identitas yang membanggakan bagi Indonesia. Jika kita sebagai warga yang mendiami bumi Nusantara ini tidak mampu menjaga identitas itu, rusaklah entitas Indonesia.

Oleh karena itu, kemajemukan harus dibingkai dengan budaya hidup yang rukun dan saling menghormati. Kerukunan harus menjangkau seluruh aspek kehidupan sosial masyarakat. Sikap rukun dalam diri sendiri atau kerukunan internal harus ditanam kuat-kuat. Kerukunan internal adalah basis yang kokoh guna merajut kerukunan lintas komunitas atau kerukunan eksternal seperti kerukunan komunitas warga atau antarumat beragama. Kemajemukan meniscayakan persatuan jika masyarakatnya hidup rukun.

Merajut kerukunan dan merawat kemajemukan berarti juga menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Itulah semangat kebangsaan yang harus diinternalisasi ke dalam jiwa setiap warga negara. Semangat ini harus tercermin dalam setiap laku perbuatan kita melalui pengejawantahan nilai-nilai keindonesiaan sejati, yakni nilai ke-bhineka tunggal ika-an.***

Gusnanto
Mahasiswa Program Studi Manajemen, FISIP
UIN Sunan Gunung Djati Bandung

(Poros Mahasiswa KORAN SINDO, 22 November 2016)
Sumber: Koran Sindo 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pahlawan Adalah Kita

Oleh: GUSNANTO "Siapakah kini pelipur lara/Nan setia dan perwira/Siapakah kini pahlawan hati/Pembela bangsa sejati" (Gugur Bunga di Taman Bakti, Ismail Marzuki). Peringatan Hari Pahlawan 10 November lalu, mengingatkan kembali kepada kita tentang pentingnya meneladan laku kepahlawanan seorang pejuang sejati sebagaimana yang ditunjukkan para patriot kemerdekaan bangsa tempo dulu. Pesan moral ini terasa relevan di tengah kondisi bangsa Indonesia dewasa ini yang seolah sedang mengalami defisit figur negarawan sejati. Diskursus ini muncul tatkala kita menyaksikan betapa banyak elite negeri yang terjebak pragmatisme politik jangka pendek. Elite negeri hanya melihat segala sesuatu dari sudut pandang kepentingan masing-masing pribadi ataupun kelompok. Politik transaksional semakin merajalela berkelindan dengan kekuasaan. Jabatan yang merupakan mandat kekuasaan dari rakyat diperjualbelikan seenaknya. Maka, tak heran bila berita penyidik KPK "menyambangi tiba-ti...

Menyikapi Defisit Kebenaran di Media Sosial

Oleh: GUSNANTO*) Belakangan ini kita disuguhi ramainya pemberitaan tentang informasi palsu ( hoax ). Penyebaran hoax di media sosial sudah sangat akut meracuni masyarakat kita. Bahkan, keberadaannya telah sampai pada kondisi yang sangat memprihatinkan. Media sosial yang semestinya sebagai sarana untuk memudahkan berkomunikasi dan berbagi informasi, kini telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan propaganda. Media sosial telah bertransformasi menjadi “rimba” yang sarat informasi tetapi defisit kebenaran. Kita akan dengan mudah menemukan informasi “liar” yang mengandung unsur kepalsuan, penghasutan, fitnah, ujaran kebencian, atau adu domba di media sosial. Hoax adalah berita palsu yang ditengarai bertujuan untuk mendiskreditkan seseorang atau kelompok tertentu. Karakteristik berita hoax sebenarnya mudah dikenali. Biasanya, judul berita bersifat provokatif, menghebohkan, bombastis, dan memiliki tendensi terhadap individu atau kelompo...