Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2017

Pilkada untuk Pemimpin Bersih

Tentu kita mengamini bahwa harapan dihelatnya pilkada serentak kali ini yaitu bisa mencetak pemimpin-pemimpin yang bersih. Hal ini wajar mengingat selama ini kita sering mendapat kekecewaan dari sekian banyak kepala daerah karena terlibat korupsi. Alih-alih menjalankan program kerja secara amanah, mereka malah mempermainkan jabatan yang diembannya. Contoh terbaru yaitu operasi tangkap tangan KPK terhadap Bupati Klaten Sri Hartini, yang menghebohkan masyarakat di penghujung tahun lalu. Sri Hartini dituduh terlibat kasus suap terkait promosi jabatan dalam pengisian susunan dan tata kerja organisasi perangkat daerah. Sebelumnya juga terjadi kasus serupa yang menjerat Bupati Subang, Ojang Sohandi. Ojang ditangkap KPK karena didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang. Kasus di atas adalah sedikit contoh dari sederetan panjang kasus korupsi yang menimpa kepala daerah. Berdasarkan data KPK, hingga 2016 sedikitnya ada 361 kepala daerah yang terlibat kasus korupsi. Rinciann...

Komitmen Janji Kampanye

Rabu, 15 Februari 2017 lalu, masyarakat di 101 daerah (7 provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota) telah memilih pemimpin baru melalui pilkada serentak. Tinggal menunggu proses rekapitulasi suara, masyarakat akan segera tahu siapa sosok yang bakal memimpin daerahnya selama lima tahun ke depan. Bahkan berbagai lembaga survei telah merilis hasil hitung cepat ( quick count ) perolehan suara tiap pasangan calon di berbagai daerah. Meskipun demikian, siapa pun nanti yang terpilih menjadi kepala daerah, tentu masyarakat sepakat mereka harus konsisten terhadap janji kampanyenya. Hal yang wajar apabila masyarakat punya ekspektasi sangat besar terhadap kepala daerah yang terpilih. Maka mereka dituntut untuk memenuhi atau mewujudkan program-program yang menjadi janji kampanyenya. Janji kampanye adalah hutang politik yang harus ditepati. Jangan sampai janji-janji yang disodorkan selama masa kampanye hanya sebagai ”pemikat hati” masyarakat saja. Yang dibutuhkan masyarakat hanyalah lan...

Menyikapi Defisit Kebenaran di Media Sosial

Oleh: GUSNANTO*) Belakangan ini kita disuguhi ramainya pemberitaan tentang informasi palsu ( hoax ). Penyebaran hoax di media sosial sudah sangat akut meracuni masyarakat kita. Bahkan, keberadaannya telah sampai pada kondisi yang sangat memprihatinkan. Media sosial yang semestinya sebagai sarana untuk memudahkan berkomunikasi dan berbagi informasi, kini telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan propaganda. Media sosial telah bertransformasi menjadi “rimba” yang sarat informasi tetapi defisit kebenaran. Kita akan dengan mudah menemukan informasi “liar” yang mengandung unsur kepalsuan, penghasutan, fitnah, ujaran kebencian, atau adu domba di media sosial. Hoax adalah berita palsu yang ditengarai bertujuan untuk mendiskreditkan seseorang atau kelompok tertentu. Karakteristik berita hoax sebenarnya mudah dikenali. Biasanya, judul berita bersifat provokatif, menghebohkan, bombastis, dan memiliki tendensi terhadap individu atau kelompo...