Oleh: GUSNANTO
Terbit di Rubrik "Kampus" Harian Umum Pikiran Rakyat, Kamis, 15 November 2018.
"Siapakah kini pelipur lara/Nan setia dan perwira/Siapakah kini pahlawan hati/Pembela bangsa sejati" (Gugur Bunga di Taman Bakti, Ismail Marzuki).
Peringatan Hari Pahlawan 10 November lalu, mengingatkan
kembali kepada kita tentang pentingnya meneladan laku kepahlawanan seorang
pejuang sejati sebagaimana yang ditunjukkan para patriot kemerdekaan bangsa
tempo dulu. Pesan moral ini terasa relevan di tengah kondisi bangsa Indonesia
dewasa ini yang seolah sedang mengalami defisit figur negarawan sejati.
Diskursus ini muncul tatkala kita menyaksikan betapa banyak
elite negeri yang terjebak pragmatisme politik jangka pendek. Elite negeri
hanya melihat segala sesuatu dari sudut pandang kepentingan masing-masing
pribadi ataupun kelompok. Politik transaksional semakin merajalela berkelindan
dengan kekuasaan.
Jabatan yang merupakan mandat kekuasaan dari rakyat
diperjualbelikan seenaknya. Maka, tak heran bila berita penyidik KPK
"menyambangi tiba-tiba" pejabat baik pusat maupun daerah, kerap kita
saksikan menghiasi layar televisi dan juga selalu menjadi tajuk utama media
massa.
Di sisi lain, kondisi sosial kehidupan bangsa tengah pekat
digayuti kabut kebohongan. Hoaks terus menerus dirayakan dan difabrikasi
sebagai komoditas politik. Penyebaran informasi palsu maupun ujaran kebencian
di media sosial nyaris tak terbendung dan akhirnya menimbulkan friksi.
Alhasil, hanya karena perbedaan pilihan politik, sesama
warga bangsa bisa saling membenci, saling menghujat, saling menghina, saling
menyalahkan, saling menegasikan, saling merasa paling benar, serta saling tidak
percaya satu sama lain.
Jika dibiarkan, kondisi seperti itu dikhawatirkan akan
mengancam integritas bangsa yang telah susah payah dibangun oleh para pejuang.
Bila saja para pahlawan bangsa itu masih hidup, tentu mereka akan sangat kecewa
melihat arah kehidupan bangsa yang sudah mulai melenceng dari apa yang mereka
cita-citakan.
Fitrah kepahlawanan
Fitrah kepahlawanan
Di tengah kondisi bangsa yang demikian, penggalan lirik lagu
wajib nasional karya Ismail Marzuki di atas patut untuk direnungkan.
Pertanyaan yang muncul adalah, apakah kita bagian dari solusi atas kondisi
bangsa hari ini?
Krisis kebangsaan, kata Yudi Latif, takkan pernah bisa
menemukan penyelesaiannya apabila kita terus memandang kepahlawanan sebagai
sesuatu yang berada di luar diri kita. Oleh karenanya, ketimbang mengutuk
kegelapan, mengapa kita tidak menyalakan saja lilin, demikian adagium China
mengatakan. Daripada menyesali kondisi bangsa yang ada saat ini, lebih baik
menghidupkan spirit kepahalawanan di dalam diri masing-masing.
Pada dasarnya, kita semua bisa menjadi pahlawan karena itu
merupakan potensi yang ada dalam diri setiap individu. Carl Pearson menyebut
ini sebagai mitos tentang fitrah kepahlawanan dalam diri. Orang-orang biasa
bisa menghadirkan kehidupan yang luar biasa apabila mampu mendayagunakan fitrah
kepahlawanannya itu.
Tentu masih banyak tokoh nasional ataupun orang-orang di
sekitar kita yang memiliki kepribadian laiknya seorang pahlawan. Maka, tugas
kita adalah menjadi bagian dari mereka, yaitu dengan cara mengejawantahkan laku
kepahlawanan dalam setiap langkah kehidupan.
Menjadi pahlawan tidak melulu harus bertempur melawan
penjajah, melainkan bisa dengan cara berbuat sesuatu yang baik atau melakukan
hal-hal sederhana dan bermakna guna menghadapi musuh kita bersama saat ini.
Jika kita kecewa terhadap koruptor yang memanfaatkan
kekuasaan untuk kepentingan dirinya, sudahkah kita menanamkan rasa malu serta
tidak bersikap permisif terhadap kejahatan ini?
Kalau kesal dengan banyaknya hoaks, ujaran kebencian, dan
berbagai konten negatif lain di internet, sudahkah kita mengisi akun media
sosial kita dengan hal-hal positif dan bermanfaat?
Bila kita khawatir akan robeknya tenun kebangsaan yang telah
membentuk Indonesia, sudahkah kita memupuk semangat persatuan dan tenggang rasa
di antara sesama sehingga timbul keharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara?
Banyak hal positif yang bisa kita lakukan dengan cara-cara
sederhana. Selain beberapa pertanyaan di atas, masih banyak sederet pertanyaan
yang bisa kita ajukan sebagai bahan kontemplasi pribadi dalam rangka
menumbuhkan jiwa kepahlawanan di dalam diri. Semua kembali kepada diri kita
masing-masing, apakah kita mau mentransformasikan nilai-nilai kepahlawanan itu
dalam kehidupan sehari-hari.
Satu hal yang perlu kita ingat bersama, kemerdekaan
Indonesia tidak datang sebagai tiban, melainkan hasil jerih payah perjuangan
para pahlawan. Karena itu, saatnya kita jadikan kepahlawanan sebagai entitas
yang hidup dalam sanubari, yang kita gunakan sebagai jalan untuk mengabdi
kepada negeri di masa kini.
Manusia-manusia Indonesia yang memiliki jiwa dan semangat
kepahlawanan yang kuat itulah yang kini dibutuhkan. Mereka diharapkan menjadi
"pembela bangsa sejati" yang pada akhirnya ikut berperan menggapai
cita-cita kemerdekaan bangsa di masa mendatang. Dan, tumpuan serta harapan
besar itu ada pada setiap diri kita.
Penulis, mahasiswa Manajemen FISIP UIN Sunan Gunung Djati.
Terbit di Rubrik "Kampus" Harian Umum Pikiran Rakyat, Kamis, 15 November 2018.
Komentar
Posting Komentar