Langsung ke konten utama

Pahlawan Adalah Kita

Oleh: GUSNANTO

"Siapakah kini pelipur lara/Nan setia dan perwira/Siapakah kini pahlawan hati/Pembela bangsa sejati" (Gugur Bunga di Taman Bakti, Ismail Marzuki).


Peringatan Hari Pahlawan 10 November lalu, mengingatkan kembali kepada kita tentang pentingnya meneladan laku kepahlawanan seorang pejuang sejati sebagaimana yang ditunjukkan para patriot kemerdekaan bangsa tempo dulu. Pesan moral ini terasa relevan di tengah kondisi bangsa Indonesia dewasa ini yang seolah sedang mengalami defisit figur negarawan sejati.

Diskursus ini muncul tatkala kita menyaksikan betapa banyak elite negeri yang terjebak pragmatisme politik jangka pendek. Elite negeri hanya melihat segala sesuatu dari sudut pandang kepentingan masing-masing pribadi ataupun kelompok. Politik transaksional semakin merajalela berkelindan dengan kekuasaan.

Jabatan yang merupakan mandat kekuasaan dari rakyat diperjualbelikan seenaknya. Maka, tak heran bila berita penyidik KPK "menyambangi tiba-tiba" pejabat baik pusat maupun daerah, kerap kita saksikan menghiasi layar televisi dan juga selalu menjadi tajuk utama media massa.

Di sisi lain, kondisi sosial kehidupan bangsa tengah pekat digayuti kabut kebohongan. Hoaks terus menerus dirayakan dan difabrikasi sebagai komoditas politik. Penyebaran informasi palsu maupun ujaran kebencian di media sosial nyaris tak terbendung dan akhirnya menimbulkan friksi.

Alhasil, hanya karena perbedaan pilihan politik, sesama warga bangsa bisa saling membenci, saling menghujat, saling menghina, saling menyalahkan, saling menegasikan, saling merasa paling benar, serta saling tidak percaya satu sama lain.

Jika dibiarkan, kondisi seperti itu dikhawatirkan akan mengancam integritas bangsa yang telah susah payah dibangun oleh para pejuang. Bila saja para pahlawan bangsa itu masih hidup, tentu mereka akan sangat kecewa melihat arah kehidupan bangsa yang sudah mulai melenceng dari apa yang mereka cita-citakan.

Fitrah kepahlawanan
Di tengah kondisi bangsa yang demikian, penggalan lirik lagu wajib nasional karya Ismail Marzuki di atas patut untuk direnungkan. Pertanyaan yang muncul adalah, apakah kita bagian dari solusi atas kondisi bangsa hari ini?

Krisis kebangsaan, kata Yudi Latif, takkan pernah bisa menemukan penyelesaiannya apabila kita terus memandang kepahlawanan sebagai sesuatu yang berada di luar diri kita. Oleh karenanya, ketimbang mengutuk kegelapan, mengapa kita tidak menyalakan saja lilin, demikian adagium China mengatakan. Daripada menyesali kondisi bangsa yang ada saat ini, lebih baik menghidupkan spirit kepahalawanan di dalam diri masing-masing.

Pada dasarnya, kita semua bisa menjadi pahlawan karena itu merupakan potensi yang ada dalam diri setiap individu. Carl Pearson menyebut ini sebagai mitos tentang fitrah kepahlawanan dalam diri. Orang-orang biasa bisa menghadirkan kehidupan yang luar biasa apabila mampu mendayagunakan fitrah kepahlawanannya itu.

Tentu masih banyak tokoh nasional ataupun orang-orang di sekitar kita yang memiliki kepribadian laiknya seorang pahlawan. Maka, tugas kita adalah menjadi bagian dari mereka, yaitu dengan cara mengejawantahkan laku kepahlawanan dalam setiap langkah kehidupan.

Menjadi pahlawan tidak melulu harus bertempur melawan penjajah, melainkan bisa dengan cara berbuat sesuatu yang baik atau melakukan hal-hal sederhana dan bermakna guna menghadapi musuh kita bersama saat ini.

Jika kita kecewa terhadap koruptor yang memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan dirinya, sudahkah kita menanamkan rasa malu serta tidak bersikap permisif terhadap kejahatan ini?

Kalau kesal dengan banyaknya hoaks, ujaran kebencian, dan berbagai konten negatif lain di internet, sudahkah kita mengisi akun media sosial kita dengan hal-hal positif dan bermanfaat?

Bila kita khawatir akan robeknya tenun kebangsaan yang telah membentuk Indonesia, sudahkah kita memupuk semangat persatuan dan tenggang rasa di antara sesama sehingga timbul keharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?

Banyak hal positif yang bisa kita lakukan dengan cara-cara sederhana. Selain beberapa pertanyaan di atas, masih banyak sederet pertanyaan yang bisa kita ajukan sebagai bahan kontemplasi pribadi dalam rangka menumbuhkan jiwa kepahlawanan di dalam diri. Semua kembali kepada diri kita masing-masing, apakah kita mau mentransformasikan nilai-nilai kepahlawanan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Satu hal yang perlu kita ingat bersama, kemerdekaan Indonesia tidak datang sebagai tiban, melainkan hasil jerih payah perjuangan para pahlawan. Karena itu, saatnya kita jadikan kepahlawanan sebagai entitas yang hidup dalam sanubari, yang kita gunakan sebagai jalan untuk mengabdi kepada negeri di masa kini.

Manusia-manusia Indonesia yang memiliki jiwa dan semangat kepahlawanan yang kuat itulah yang kini dibutuhkan. Mereka diharapkan menjadi "pembela bangsa sejati" yang pada akhirnya ikut berperan menggapai cita-cita kemerdekaan bangsa di masa mendatang. Dan, tumpuan serta harapan besar itu ada pada setiap diri kita.
  
Penulis, mahasiswa Manajemen FISIP UIN Sunan Gunung Djati.



Terbit di Rubrik "Kampus" Harian Umum Pikiran Rakyat, Kamis, 15 November 2018.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merajut Kerukunan, Merawat Kemajemukan

Indonesia yang sudah merdeka lebih dari 71 tahun belum menemukan momentum soliditasnya. Republik ini masih (dan terus) berproses mencari momentum itu dalam sistem kehidupan negara-bangsa. Ini dikarenakan masih banyak di antara kita yang enggan membuka hati untuk memaknai pentingnya kebersamaan saat hidup di negara majemuk seperti Indonesia. Indonesia adalah entitas yang khas dan unik secara geografis maupun sosiokultural. Puluhan ribu pulau dan bermacam-macam bahasa, budaya, adat, suku, ras, agama, dan pikiran membentuk Indonesia. Kenyataan ini seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menjadikan Indonesia negara yang maju. Namun misi yang diemban negara sebagaimana yang tercantum dalam ideologi Pancasila poin ketiga, yakni Persatuan Indonesia, dirasa belum sepenuhnya terwujud. Kemajemukan Indonesia belum bisa lepas dari konflik yang sering terjadi di berbagai daerah. Konflik itu biasanya mengatasnamakan suku, agama, ras, dan antargolongan alias SARA. Kita melihat masih banyak orang yan...

Menyikapi Defisit Kebenaran di Media Sosial

Oleh: GUSNANTO*) Belakangan ini kita disuguhi ramainya pemberitaan tentang informasi palsu ( hoax ). Penyebaran hoax di media sosial sudah sangat akut meracuni masyarakat kita. Bahkan, keberadaannya telah sampai pada kondisi yang sangat memprihatinkan. Media sosial yang semestinya sebagai sarana untuk memudahkan berkomunikasi dan berbagi informasi, kini telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan propaganda. Media sosial telah bertransformasi menjadi “rimba” yang sarat informasi tetapi defisit kebenaran. Kita akan dengan mudah menemukan informasi “liar” yang mengandung unsur kepalsuan, penghasutan, fitnah, ujaran kebencian, atau adu domba di media sosial. Hoax adalah berita palsu yang ditengarai bertujuan untuk mendiskreditkan seseorang atau kelompok tertentu. Karakteristik berita hoax sebenarnya mudah dikenali. Biasanya, judul berita bersifat provokatif, menghebohkan, bombastis, dan memiliki tendensi terhadap individu atau kelompo...