Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Raih Kesuksesan dengan Melawan Status Quo

Judul: Originals: "Tabrak Aturan", Jadilah Pemenang Penulis: Adam Grant Penerjemah: Mursid Wijanarko Penerbit: Noura Cetakan: Pertama, April 2017 Tebal: xiv+334 halaman (15x23 cm) ISBN: 978-602-385-277-2 Manusia cenderung menjalani kehidupan sesuai dengan patron normatif, terpaku pada sesuatu yang sudah berlaku dan menjadi kebiasaan umum di lingkungan sekitarnya. Misalnya, di dalam perusahaan, karyawan cenderung bekerja mengikuti aturan default perusahaan. Mereka menerima begitu saja pekerjaan dan menjalaninya menurut panduan baku SOP. Sedikit dari mereka yang berani mencoba ide-ide baru di luar kebiasaan. Melalui buku ini, Adam Grant mengajak kita untuk berani mengeksplorasi dan menumbuhkan apa yang disebutnya sebagai orisinalitas: menolak status quo dan mencari alternatif pilihan yang lebih baik. Orisinalitas merupakan antitesis dari konformitas. Konformitas artinya mengikuti orang kebanyakan di jalur konvensional dan menjaga status quo . ...

Mengoptimalkan Potensi Zakat

Kesenjangan selalu berkelindan dengan kemiskinan, keduanya hingga kini masih menjadi persoalan serius yang dihadapi Indonesia. Selain itu, keduanya juga menjadi akar dari permasalahan kemanusiaan dan faktor timbulnya proses dehumanisasi seperti kriminalitas. Perihal masalah tersebut, sampai-sampai Thomas Hobbes pernah berujar: ” homo homini lupus ”, manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Lewat pernyataan Hobbes, kita jadi mengerti bahwa manusia cenderung akan lepas dari bingkai kemanusiaannya tatkala mereka bersentuhan langsung dengan urusan ”menyambung” hidup. Terkait kesenjangan, Bank Dunia pada 2014 melakukan survei untuk mengetahui distribusi kesejahteraan di Indonesia. Bank Dunia membagi masyarakat menjadi lima kelompok berdasarkan tingkat kesejahteraannya. Hasilnya, distribusi kesejahteraan di Indonesia mengalami ketimpangan, di mana 40% kue ekonomi dikuasai oleh kelompok paling sejahtera. Angka ini setara dengan porsi kue ekonomi tiga kelompok paling miskin ...

Urgensi Kurikulum Pendidikan Antikorupsi

Berharap Indonesia bebas dari korupsi adalah seperti mencari upaya menegakkan benang yang basah. Bukan sesuatu yang mustahil. Hanya, diperlukan upaya ekstrakeras serta kesungguhan dari semua pihak untuk mewujudkan harapan tersebut. Betapa tidak, korupsi di negara kita telah bertransformasi menjadi virus yang sangat ganas. Virus itu terus tumbuh dan eskalasinya semakin meluas menjangkiti tatanan birokrasi. Kasus terbaru yaitu terkuaknya korupsi anggaran proyek e-KTP yang sudah memasuki persidangan. Kasus itu sangat menghebohkan masyarakat karena telah melibatkan nama-nama besar pejabat dan anggota DPR. Selain itu, yang paling mencengangkan adalah adanya kerugian negara hingga Rp 2,3 triliun rupiah dari total anggaran proyek tersebut. Bila kita cermati, ada beberapa hal yang membuat korupsi di Indonesia semakin tumbuh subur. Pertama, pemberian label “ extraordinary crime “ pada korupsi namun tidak dibarengi dengan “ extra-punishment “ pula yang bisa membuat jera. Bahkan, ...

Pilkada untuk Pemimpin Bersih

Tentu kita mengamini bahwa harapan dihelatnya pilkada serentak kali ini yaitu bisa mencetak pemimpin-pemimpin yang bersih. Hal ini wajar mengingat selama ini kita sering mendapat kekecewaan dari sekian banyak kepala daerah karena terlibat korupsi. Alih-alih menjalankan program kerja secara amanah, mereka malah mempermainkan jabatan yang diembannya. Contoh terbaru yaitu operasi tangkap tangan KPK terhadap Bupati Klaten Sri Hartini, yang menghebohkan masyarakat di penghujung tahun lalu. Sri Hartini dituduh terlibat kasus suap terkait promosi jabatan dalam pengisian susunan dan tata kerja organisasi perangkat daerah. Sebelumnya juga terjadi kasus serupa yang menjerat Bupati Subang, Ojang Sohandi. Ojang ditangkap KPK karena didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang. Kasus di atas adalah sedikit contoh dari sederetan panjang kasus korupsi yang menimpa kepala daerah. Berdasarkan data KPK, hingga 2016 sedikitnya ada 361 kepala daerah yang terlibat kasus korupsi. Rinciann...

Komitmen Janji Kampanye

Rabu, 15 Februari 2017 lalu, masyarakat di 101 daerah (7 provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota) telah memilih pemimpin baru melalui pilkada serentak. Tinggal menunggu proses rekapitulasi suara, masyarakat akan segera tahu siapa sosok yang bakal memimpin daerahnya selama lima tahun ke depan. Bahkan berbagai lembaga survei telah merilis hasil hitung cepat ( quick count ) perolehan suara tiap pasangan calon di berbagai daerah. Meskipun demikian, siapa pun nanti yang terpilih menjadi kepala daerah, tentu masyarakat sepakat mereka harus konsisten terhadap janji kampanyenya. Hal yang wajar apabila masyarakat punya ekspektasi sangat besar terhadap kepala daerah yang terpilih. Maka mereka dituntut untuk memenuhi atau mewujudkan program-program yang menjadi janji kampanyenya. Janji kampanye adalah hutang politik yang harus ditepati. Jangan sampai janji-janji yang disodorkan selama masa kampanye hanya sebagai ”pemikat hati” masyarakat saja. Yang dibutuhkan masyarakat hanyalah lan...

Menyikapi Defisit Kebenaran di Media Sosial

Oleh: GUSNANTO*) Belakangan ini kita disuguhi ramainya pemberitaan tentang informasi palsu ( hoax ). Penyebaran hoax di media sosial sudah sangat akut meracuni masyarakat kita. Bahkan, keberadaannya telah sampai pada kondisi yang sangat memprihatinkan. Media sosial yang semestinya sebagai sarana untuk memudahkan berkomunikasi dan berbagi informasi, kini telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan propaganda. Media sosial telah bertransformasi menjadi “rimba” yang sarat informasi tetapi defisit kebenaran. Kita akan dengan mudah menemukan informasi “liar” yang mengandung unsur kepalsuan, penghasutan, fitnah, ujaran kebencian, atau adu domba di media sosial. Hoax adalah berita palsu yang ditengarai bertujuan untuk mendiskreditkan seseorang atau kelompok tertentu. Karakteristik berita hoax sebenarnya mudah dikenali. Biasanya, judul berita bersifat provokatif, menghebohkan, bombastis, dan memiliki tendensi terhadap individu atau kelompo...