Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Perang Melawan Korupsi, Menggali Akar dan Dampaknya

Pikiran Rakyat Oleh: GUSNANTO*) Tanggal 9 Desember diperingati sebagai Hari Antikorupsi Sedunia. Hari Antikorupsi dicetuskan pertama kali pada tahun 2003 dalam acara United Nation Againts Corruption yang diselenggarakan di Meksiko. Pertemuan yang diinisiasi beberapa negara tersebut adalah bentuk komitmen dalam rangka memerangi kejahatan korupsi. Di Indonesia, Hari Antikorupsi Nasional diresmikan setahun setelahnya, juga ditetapkan setiap tanggal 9 Desember. Namun, apakah adanya peringatan Hari Antikorupsi Sedunia sudah berhasil menekan angka korupsi? Tak dimungkiri, jumlah kasus korupsi di Indonesia terus meningkat dan “menggila” setiap tahunnya. Korupsi sudah menjelma menjadi “virus” yang menjangkiti seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa dan negara. “Virus” itu terus menggerogoti karena belum ditemukan “vaksin” yang bisa membasminya.   Indonesia Corruption Watch (ICW) melaporkan pada tahun 2015 terdapat 550 kasus korupsi di Indonesia yang melibatkan 1124 orang tersa...

Argumentasi Kompas Kampus

Seperti Orangtua Sendiri Gusnanto , Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung   Pada dasarnya tugas utama seorang guru yaitu mengajar dan mendidik. Sebagai pengajar, guru merupakan fasilitator bagi siswa dalam mengkaji ilmu pengetahuan. Sedangkan sebagai pendidik, guru adalah medium yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada siswa. Sesuai filosofi namanya, guru menjadi pihak yang digugu dan ditiru. Mereka adalah panutan siswa di luar lingkungan keluarga. Dan guru yang asyik menurut saya yaitu mereka yang mengajarnya tidak monoton. Contohnya, dulu ketika SMA di sekolah saya ada guru kebetulan beliau adalah guru Sejarah. Sebagian siswa menganggap Sejarah adalah pelajaran yang membosankan. Namun, di tangan beliau sejarah menjadi pelajaran yang menarik. Saat menyampaikan materi beliau sering melucu sehingga kami menjadi senang dan enjoy belajar sejarah. Selain itu, yang terpenting, guru ...

Merajut Kerukunan, Merawat Kemajemukan

Indonesia yang sudah merdeka lebih dari 71 tahun belum menemukan momentum soliditasnya. Republik ini masih (dan terus) berproses mencari momentum itu dalam sistem kehidupan negara-bangsa. Ini dikarenakan masih banyak di antara kita yang enggan membuka hati untuk memaknai pentingnya kebersamaan saat hidup di negara majemuk seperti Indonesia. Indonesia adalah entitas yang khas dan unik secara geografis maupun sosiokultural. Puluhan ribu pulau dan bermacam-macam bahasa, budaya, adat, suku, ras, agama, dan pikiran membentuk Indonesia. Kenyataan ini seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menjadikan Indonesia negara yang maju. Namun misi yang diemban negara sebagaimana yang tercantum dalam ideologi Pancasila poin ketiga, yakni Persatuan Indonesia, dirasa belum sepenuhnya terwujud. Kemajemukan Indonesia belum bisa lepas dari konflik yang sering terjadi di berbagai daerah. Konflik itu biasanya mengatasnamakan suku, agama, ras, dan antargolongan alias SARA. Kita melihat masih banyak orang yan...

Memberantas Lingkaran Setan Pungli

Tajuk KORAN SINDO yang berjudul Pungli Lagi, Pungli Lagi (12/10/16) menegaskan betapa pungutan liar (pungli) telah menjadi penyakit kronis yang menjangkiti dunia pelayanan publik di Indonesia. Hampir di setiap lini birokrasi pemerintahan dengan mudah ditemui praktik yang bernama pungli. Tidak hanya di lingkup atas, praktik haram ini juga sudah mewabah sampai ke instansi terendah seperti rukun tetangga (RT). Tak dapat dimungkiri, pungli telah membudaya dalam kehidupan birokrasi dan masyarakat. Dari kacamata ekonomi, pungli dapat memicu biaya tinggi yang bisa menurunkan daya saing. Praktik pungli ditengarai terjadi karena rasionalisasi moral oleh pelaku. Rasionalisasi moral itu berupa tindakan pembenaran terhadap sesuatu yang sebenarnya menyimpang. Inilah yang menyebabkan pungli tampak begitu nyata dan masif dalam birokrasi. Banyak pegawai yang laku kerjanya bak Pak Ogah, gope (uang) dulu, baru bekerja. Perilaku aparat yang kurang responsif–baru bergerak jika ada pelicin–t...

Bukan Sekadar Memilih

Suasana panas nan menegangkan mulai terasa menjelang pilkada serentak tahun 2017. Pilkada yang merupakan hajatan demokrasi tingkat daerah dengan segala dinamika politiknya memang selalu menarik untuk diperbincangkan. Pilkada Serentak kali ini dipastikan akan lebih semarak, karena keikutsertaan Provinsi DKI Jakarta. Dikutip dari laman resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU), DKI Jakarta bersama 100 daerah lainnya (6 provinsi, 18 kota, dan 76 kabupaten) akan menjadi daerah partisipan pada pilkada serentak tanggal 15 Februari 2017 nanti. Sebagai ibu kota negara, tentu Jakarta akan menjadi pusat perhatian percaturan politik nasional. Hal ini dibuktikan dengan intensifnya pemberitaan media massa tentang pemilihan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI yang telah melibatkan tiga nama besar tokoh politik Indonesia. Ibarat pemilihan presiden, hampir seluruh masyarakat Indonesia merasakan panasnya atmosfer persaingan para calon. Keterlibatan DKI tentu akan membuat persaingan politik sem...

Puisi

Puisi-Puisi GUSNANTO di Jawa Pos (Minggu, 17 Januari 2016) Jawa Pos Anomali sebuah renungan: bagi kita yang ragu . Kau sadar? Oktober yang telah menyihir tanah di kobong bata itu menjadi tidak liat lagi? Juga November   yang mengusir capung pergi dari kolam ikan koi? Kolam itu airnya tidak lagi membias wajahmu Wajahmu kini sayu membuat mataku terpejam Seperti angin yang meniup temaram lilin dalam gelap Kau sadar? Duabelas yang tidak seperti akhir tahun? Ataukah   satu, dua, tiga, yang sama seperti tujuh, delapan, dan sembilan? Seperti cahaya yang menjauh dari horizonnya Ya benar! Semua tidak sama lagi Pion-pion catur telah tumbang merapuhkan sang raja Laksana Majapahit tanpa Patih Gadjah Mada Kau sadar? Kini hijau menjadi kuning dan kuning menjadi merah? Juga debu di jembatan itu yang semakin tebal? Mengusik tenggorokan dan memerahkan mata kita Kau sadar? Petani kini mulai merintih? Melihat tanamannya yang...