Langsung ke konten utama

Mengoptimalkan Potensi Zakat

Kesenjangan selalu berkelindan dengan kemiskinan, keduanya hingga kini masih menjadi persoalan serius yang dihadapi Indonesia.

Selain itu, keduanya juga menjadi akar dari permasalahan kemanusiaan dan faktor timbulnya proses dehumanisasi seperti kriminalitas. Perihal masalah tersebut, sampai-sampai Thomas Hobbes pernah berujar: ”homo homini lupus”, manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Lewat pernyataan Hobbes, kita jadi mengerti bahwa manusia cenderung akan lepas dari bingkai kemanusiaannya tatkala mereka bersentuhan langsung dengan urusan ”menyambung” hidup.

Terkait kesenjangan, Bank Dunia pada 2014 melakukan survei untuk mengetahui distribusi kesejahteraan di Indonesia. Bank Dunia membagi masyarakat menjadi lima kelompok berdasarkan tingkat kesejahteraannya. Hasilnya, distribusi kesejahteraan di Indonesia mengalami ketimpangan, di mana 40% kue ekonomi dikuasai oleh kelompok paling sejahtera. Angka ini setara dengan porsi kue ekonomi tiga kelompok paling miskin digabung menjadi satu. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat kesenjangan di Indonesia memang masih sangat tinggi.

Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar, Indonesia sesungguhnya memiliki solusi alternatif guna menekan tingkat kesenjangan, yakni melalui zakat. Sudah saatnya pembangunan nasional beralih menjadi berbasis zakat mengingat potensi zakat di Indonesia sangat besar. Menurut Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), potensi zakat Indonesia setiap tahun bisa mencapai Rp 217 triliun. Akan tetapi, realisasi penghimpunan zakat nasional baru mencapai sekitar 1% dari angka tersebut. Zakat merupakan sejumlah kadar tertentu dari harta yang dimiliki seseorang yang wajib diberikan kepada orang-orang yang berhak.

Dalam Islam, zakat berfungsi untuk menghindarkan pengakumulasian modal kekayaan oleh seseorang atau sekelompok orang tertentu. Walaupun pada dasarnya tidak melarang umatnya menjadi kaya, Islam tidak menghendaki adanya kesenjangan atas kepemilikan modal pada umatnya. Oleh karena itu, dikeluarkanlah mekanisme zakat untuk menghindari masalah tersebut.

Fenomena pengumpulan zakat di Indonesia selama ini masih menghadapi berbagai macam kompleksitas permasalahan, di antaranya masih kurangnya kesadaran umat, minimnya sosialisasi tentang pentingnya zakat, hingga masih banyak penyaluran zakat tanpa melalui lembaga seperti Baznas. Padahal, jika potensi zakat yang besar tersebut bisa terhimpun seluruhnya, hal itu bisa menjadi utilitas yang mampu meringankan beban negara dalam mengentaskan kemiskinan serta menekan tingkat kesenjangan.

Pada akhirnya, pemerintah melalui Baznas perlu lebih giat melakukan sosialisasi agar kesadaran umat dalam membayar zakat bisa meningkat. Zakat harus mampu menjadi instrumen guna mewujudkan kehidupan sosial yang lebih adil dan mencegah kesenjangan ekonomi. Zakat hendaknya tidak hanya dipahami sebagai proses ”menyucikan” harta atau untuk menghindari ”kecemburuan” sosial.

Lebih dari itu, zakat harus mampu menjadikan seseorang sebagai ”homo homini socius”, yakni manusia sebagai individu yang sangat berarti bagi manusia lainnya.

Gusnanto
Mahasiswa Jurusan Manajemen
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
UIN Sunan Gunung Djati Bandung


(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Rabu 24 Mei 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merajut Kerukunan, Merawat Kemajemukan

Indonesia yang sudah merdeka lebih dari 71 tahun belum menemukan momentum soliditasnya. Republik ini masih (dan terus) berproses mencari momentum itu dalam sistem kehidupan negara-bangsa. Ini dikarenakan masih banyak di antara kita yang enggan membuka hati untuk memaknai pentingnya kebersamaan saat hidup di negara majemuk seperti Indonesia. Indonesia adalah entitas yang khas dan unik secara geografis maupun sosiokultural. Puluhan ribu pulau dan bermacam-macam bahasa, budaya, adat, suku, ras, agama, dan pikiran membentuk Indonesia. Kenyataan ini seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menjadikan Indonesia negara yang maju. Namun misi yang diemban negara sebagaimana yang tercantum dalam ideologi Pancasila poin ketiga, yakni Persatuan Indonesia, dirasa belum sepenuhnya terwujud. Kemajemukan Indonesia belum bisa lepas dari konflik yang sering terjadi di berbagai daerah. Konflik itu biasanya mengatasnamakan suku, agama, ras, dan antargolongan alias SARA. Kita melihat masih banyak orang yan...

Pahlawan Adalah Kita

Oleh: GUSNANTO "Siapakah kini pelipur lara/Nan setia dan perwira/Siapakah kini pahlawan hati/Pembela bangsa sejati" (Gugur Bunga di Taman Bakti, Ismail Marzuki). Peringatan Hari Pahlawan 10 November lalu, mengingatkan kembali kepada kita tentang pentingnya meneladan laku kepahlawanan seorang pejuang sejati sebagaimana yang ditunjukkan para patriot kemerdekaan bangsa tempo dulu. Pesan moral ini terasa relevan di tengah kondisi bangsa Indonesia dewasa ini yang seolah sedang mengalami defisit figur negarawan sejati. Diskursus ini muncul tatkala kita menyaksikan betapa banyak elite negeri yang terjebak pragmatisme politik jangka pendek. Elite negeri hanya melihat segala sesuatu dari sudut pandang kepentingan masing-masing pribadi ataupun kelompok. Politik transaksional semakin merajalela berkelindan dengan kekuasaan. Jabatan yang merupakan mandat kekuasaan dari rakyat diperjualbelikan seenaknya. Maka, tak heran bila berita penyidik KPK "menyambangi tiba-ti...

Menyikapi Defisit Kebenaran di Media Sosial

Oleh: GUSNANTO*) Belakangan ini kita disuguhi ramainya pemberitaan tentang informasi palsu ( hoax ). Penyebaran hoax di media sosial sudah sangat akut meracuni masyarakat kita. Bahkan, keberadaannya telah sampai pada kondisi yang sangat memprihatinkan. Media sosial yang semestinya sebagai sarana untuk memudahkan berkomunikasi dan berbagi informasi, kini telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan propaganda. Media sosial telah bertransformasi menjadi “rimba” yang sarat informasi tetapi defisit kebenaran. Kita akan dengan mudah menemukan informasi “liar” yang mengandung unsur kepalsuan, penghasutan, fitnah, ujaran kebencian, atau adu domba di media sosial. Hoax adalah berita palsu yang ditengarai bertujuan untuk mendiskreditkan seseorang atau kelompok tertentu. Karakteristik berita hoax sebenarnya mudah dikenali. Biasanya, judul berita bersifat provokatif, menghebohkan, bombastis, dan memiliki tendensi terhadap individu atau kelompo...