Langsung ke konten utama

Argumentasi Kompas Kampus



Seperti Orangtua Sendiri

Gusnanto, Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung
 

Pada dasarnya tugas utama seorang guru yaitu mengajar dan mendidik. Sebagai pengajar, guru merupakan fasilitator bagi siswa dalam mengkaji ilmu pengetahuan. Sedangkan sebagai pendidik, guru adalah medium yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada siswa. Sesuai filosofi namanya, guru menjadi pihak yang digugu dan ditiru. Mereka adalah panutan siswa di luar lingkungan keluarga.

Dan guru yang asyik menurut saya yaitu mereka yang mengajarnya tidak monoton. Contohnya, dulu ketika SMA di sekolah saya ada guru kebetulan beliau adalah guru Sejarah. Sebagian siswa menganggap Sejarah adalah pelajaran yang membosankan. Namun, di tangan beliau sejarah menjadi pelajaran yang menarik. Saat menyampaikan materi beliau sering melucu sehingga kami menjadi senang dan enjoy belajar sejarah.

Selain itu, yang terpenting, guru yang asyik itu saat kita merasa mereka seperti orangtua sendiri. Mereka tidak membeda-bedakan siswanya, tapi berlaku sama kepada setiap siswa. Mereka juga mau mendengar masalah dan keluh kesah kita serta bersedia membantu menyelesaikannya. Mereka selalu memotivasi dan mengarahkan siswa merancang masa depannya. Misalnya, dengan membimbing siswa memilih jurusan kuliah di perguruan tinggi atau mengarahkan cita-cita lainnya.

Bila sudah memosisikan dirinya sebagai orangtua bagi siswa, guru akan memiliki kepribadian yang sabar dan luwes dalam mengajar. Tegas namun penyayang, juga hangat dalam bergaul dengan siswa. Sehingga para siswa akan bersemangat meraih prestasi belajar.*** 

 (Argumentasi Kompas Kampus, 25 November 2016)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merajut Kerukunan, Merawat Kemajemukan

Indonesia yang sudah merdeka lebih dari 71 tahun belum menemukan momentum soliditasnya. Republik ini masih (dan terus) berproses mencari momentum itu dalam sistem kehidupan negara-bangsa. Ini dikarenakan masih banyak di antara kita yang enggan membuka hati untuk memaknai pentingnya kebersamaan saat hidup di negara majemuk seperti Indonesia. Indonesia adalah entitas yang khas dan unik secara geografis maupun sosiokultural. Puluhan ribu pulau dan bermacam-macam bahasa, budaya, adat, suku, ras, agama, dan pikiran membentuk Indonesia. Kenyataan ini seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menjadikan Indonesia negara yang maju. Namun misi yang diemban negara sebagaimana yang tercantum dalam ideologi Pancasila poin ketiga, yakni Persatuan Indonesia, dirasa belum sepenuhnya terwujud. Kemajemukan Indonesia belum bisa lepas dari konflik yang sering terjadi di berbagai daerah. Konflik itu biasanya mengatasnamakan suku, agama, ras, dan antargolongan alias SARA. Kita melihat masih banyak orang yan...

Pahlawan Adalah Kita

Oleh: GUSNANTO "Siapakah kini pelipur lara/Nan setia dan perwira/Siapakah kini pahlawan hati/Pembela bangsa sejati" (Gugur Bunga di Taman Bakti, Ismail Marzuki). Peringatan Hari Pahlawan 10 November lalu, mengingatkan kembali kepada kita tentang pentingnya meneladan laku kepahlawanan seorang pejuang sejati sebagaimana yang ditunjukkan para patriot kemerdekaan bangsa tempo dulu. Pesan moral ini terasa relevan di tengah kondisi bangsa Indonesia dewasa ini yang seolah sedang mengalami defisit figur negarawan sejati. Diskursus ini muncul tatkala kita menyaksikan betapa banyak elite negeri yang terjebak pragmatisme politik jangka pendek. Elite negeri hanya melihat segala sesuatu dari sudut pandang kepentingan masing-masing pribadi ataupun kelompok. Politik transaksional semakin merajalela berkelindan dengan kekuasaan. Jabatan yang merupakan mandat kekuasaan dari rakyat diperjualbelikan seenaknya. Maka, tak heran bila berita penyidik KPK "menyambangi tiba-ti...

Menyikapi Defisit Kebenaran di Media Sosial

Oleh: GUSNANTO*) Belakangan ini kita disuguhi ramainya pemberitaan tentang informasi palsu ( hoax ). Penyebaran hoax di media sosial sudah sangat akut meracuni masyarakat kita. Bahkan, keberadaannya telah sampai pada kondisi yang sangat memprihatinkan. Media sosial yang semestinya sebagai sarana untuk memudahkan berkomunikasi dan berbagi informasi, kini telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan propaganda. Media sosial telah bertransformasi menjadi “rimba” yang sarat informasi tetapi defisit kebenaran. Kita akan dengan mudah menemukan informasi “liar” yang mengandung unsur kepalsuan, penghasutan, fitnah, ujaran kebencian, atau adu domba di media sosial. Hoax adalah berita palsu yang ditengarai bertujuan untuk mendiskreditkan seseorang atau kelompok tertentu. Karakteristik berita hoax sebenarnya mudah dikenali. Biasanya, judul berita bersifat provokatif, menghebohkan, bombastis, dan memiliki tendensi terhadap individu atau kelompo...