Langsung ke konten utama

Bukan Sekadar Memilih

Suasana panas nan menegangkan mulai terasa menjelang pilkada serentak tahun 2017.

Pilkada yang merupakan hajatan demokrasi tingkat daerah dengan segala dinamika politiknya memang selalu menarik untuk diperbincangkan. Pilkada Serentak kali ini dipastikan akan lebih semarak, karena keikutsertaan Provinsi DKI Jakarta.

Dikutip dari laman resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU), DKI Jakarta bersama 100 daerah lainnya (6 provinsi, 18 kota, dan 76 kabupaten) akan menjadi daerah partisipan pada pilkada serentak tanggal 15 Februari 2017 nanti. Sebagai ibu kota negara, tentu Jakarta akan menjadi pusat perhatian percaturan politik nasional. Hal ini dibuktikan dengan intensifnya pemberitaan media massa tentang pemilihan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI yang telah melibatkan tiga nama besar tokoh politik Indonesia.

Ibarat pemilihan presiden, hampir seluruh masyarakat Indonesia merasakan panasnya atmosfer persaingan para calon. Keterlibatan DKI tentu akan membuat persaingan politik semakin ketat. Namun yang terpenting, hal ini harus diantisipasi agar tidak sampai terjadi konflik horizontal yang bisa mengancam stabilitas nasional (Tajuk KORAN SINDO, 24/9/16).

Terlepas dari hiruk-pikuk panasnya iklim pilkada, warga Jakarta dan daerah lainnya harus tetap dingin dalam merayakan pesta demokrasi tersebut. Jangan sampai mereka terjebak pada fanatisme seremonial belaka. Warga harus tetap sadar bahwa esensi dari sebuah pemilihan, yaitu hanya untuk mencari sosok pemimpin yang berkualitas.

Pemimpin yang diharapkan mampu membawa daerahnya menjadi lebih baik. Jangan sampai acara yang menghabiskan banyak dana rakyat ini berakhir dengan sia-sia. Perlu kita ingat, memilih pemimpin merupakan kewajiban bagi warga di suatu negara/ daerah yang berdemokrasi.

Peran aktif warga tidak terbatas pada saat masa kampanye atau ketika di bilik suara saja, yang terpenting adalah berpartisipasi mengawal roda pemerintahan setelah proses pemilihan berlangsung, karena “Setiap pemilihan tiba” kata Yudi Latif, “mestinya menjadi momen perhitungan, apakah perjalanan demokrasi mengalami gerak maju atau mundur.” Dikatakan maju apabila terjadi kepuasan masyarakat dalam budaya politik dengan terciptanya pemilihan yang luber dan jurdil.

Indikator lainnya yaitu dihasilkannya pemimpin yang ideal. Pemimpin ideal adalah yang segala ide, ucapan, dan tingkah lakunya senantiasa setia kepada rakyat. Mereka sadar bahwa kepemimpinan adalah amanah.

Maka dalam mendesain sistem tatanan pemerintahan, hendaknya selalu berorientasi pada kontrak politik yang berpihak pada rakyat, yang diukur melalui mekanisme-mekanisme pertanggungjawaban kepada publik. Sebaliknya, demokrasi mengalami kemunduran apabila pemimpin yang dihasilkan adalah pemimpin autokrat.

Mereka pandai menebar citra dan membuat wacana-wacana di atas panggung kampanye. Akan tetapi, semua itu jauh dari realisasi ketika mereka terpilih, atau sekadar retorika kosong yang menyihir publik. Oleh karena itu rakyat harus pandai memilih pemimpin yang adil. Karena negara (daerah) yang tidak diperintah dengan keadilan, adalah gerombolan besar perampok.***

Gusnanto
UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Mahasiswa Program Studi Manajemen
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

(Poros Mahasiswa KORAN SINDO, 29 September 2016)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merajut Kerukunan, Merawat Kemajemukan

Indonesia yang sudah merdeka lebih dari 71 tahun belum menemukan momentum soliditasnya. Republik ini masih (dan terus) berproses mencari momentum itu dalam sistem kehidupan negara-bangsa. Ini dikarenakan masih banyak di antara kita yang enggan membuka hati untuk memaknai pentingnya kebersamaan saat hidup di negara majemuk seperti Indonesia. Indonesia adalah entitas yang khas dan unik secara geografis maupun sosiokultural. Puluhan ribu pulau dan bermacam-macam bahasa, budaya, adat, suku, ras, agama, dan pikiran membentuk Indonesia. Kenyataan ini seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menjadikan Indonesia negara yang maju. Namun misi yang diemban negara sebagaimana yang tercantum dalam ideologi Pancasila poin ketiga, yakni Persatuan Indonesia, dirasa belum sepenuhnya terwujud. Kemajemukan Indonesia belum bisa lepas dari konflik yang sering terjadi di berbagai daerah. Konflik itu biasanya mengatasnamakan suku, agama, ras, dan antargolongan alias SARA. Kita melihat masih banyak orang yan...

Pahlawan Adalah Kita

Oleh: GUSNANTO "Siapakah kini pelipur lara/Nan setia dan perwira/Siapakah kini pahlawan hati/Pembela bangsa sejati" (Gugur Bunga di Taman Bakti, Ismail Marzuki). Peringatan Hari Pahlawan 10 November lalu, mengingatkan kembali kepada kita tentang pentingnya meneladan laku kepahlawanan seorang pejuang sejati sebagaimana yang ditunjukkan para patriot kemerdekaan bangsa tempo dulu. Pesan moral ini terasa relevan di tengah kondisi bangsa Indonesia dewasa ini yang seolah sedang mengalami defisit figur negarawan sejati. Diskursus ini muncul tatkala kita menyaksikan betapa banyak elite negeri yang terjebak pragmatisme politik jangka pendek. Elite negeri hanya melihat segala sesuatu dari sudut pandang kepentingan masing-masing pribadi ataupun kelompok. Politik transaksional semakin merajalela berkelindan dengan kekuasaan. Jabatan yang merupakan mandat kekuasaan dari rakyat diperjualbelikan seenaknya. Maka, tak heran bila berita penyidik KPK "menyambangi tiba-ti...

Menyikapi Defisit Kebenaran di Media Sosial

Oleh: GUSNANTO*) Belakangan ini kita disuguhi ramainya pemberitaan tentang informasi palsu ( hoax ). Penyebaran hoax di media sosial sudah sangat akut meracuni masyarakat kita. Bahkan, keberadaannya telah sampai pada kondisi yang sangat memprihatinkan. Media sosial yang semestinya sebagai sarana untuk memudahkan berkomunikasi dan berbagi informasi, kini telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan propaganda. Media sosial telah bertransformasi menjadi “rimba” yang sarat informasi tetapi defisit kebenaran. Kita akan dengan mudah menemukan informasi “liar” yang mengandung unsur kepalsuan, penghasutan, fitnah, ujaran kebencian, atau adu domba di media sosial. Hoax adalah berita palsu yang ditengarai bertujuan untuk mendiskreditkan seseorang atau kelompok tertentu. Karakteristik berita hoax sebenarnya mudah dikenali. Biasanya, judul berita bersifat provokatif, menghebohkan, bombastis, dan memiliki tendensi terhadap individu atau kelompo...